Tingkatkan Produksi Kakao, Pemkab Luwu Utara Lakukan Ini

MASAMBA, TEKAPE.co – Sejumlah upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, dalam meningkatkan produksi kakao di daerah itu.

Salah satunya dengan menggelar ‘technical workshop lesson learning model penyuluhan berbasis IT untuk mendorong adopsi petani (pilot project SOW 6 Desa Batualang), Jumat 29 Juni 2018 lalu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Luwu Utara, Rusydi Rasyid, menyebut, pihaknya menyediakan anggaran untuk mendukung petani dalam proses peremajaan kebun kakao yang tidak produktif lagi.

Akan tetapi, kebijakan ini masih menemui sejumlah kendala lantaran hanya sebagian kecil petani yang mau berkelompok dan dapat mengakses teknologi dan informasi.

“Sehingga masih terdapat kesenjangan dalam memahami pertanian yang keberlanjutan bagi banyak petani,” kata Rusydi.

Itu diperparah dengan data-data tentang kinerja petani dan aktivitas secara terpadu yang masih sulit didapatkan dan belum tersedia, meskipun sebagian besar perusahaan perdagangan kakao telah membuat sistem informasi.

“Data yang mereka kumpulkan hanya untuk kebutuhan dan dipakai sendiri, pemerintah dan publik tidak dapat mengaksesnya,” katanya.

Olehnya itu, diharapkan, model pemberian layanan yang menggabungkan pelatihan individu dengan basis IT untuk sistem manajemen internal diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan mendukung managemen kelompok secara profesional.

“Saya berharap dalam workshop berbagi pelajaran dapat dipahami. Mulai dari model pelatihan individu yang terintegrasi dengan basis IT dalam monitoring perkembangan kemajuan kegiatan, tantangan dan peluang untuk meningkatkan model sebagai cara untuk menciptakan dan memperkuat sistem manajemen internal sebagai garis depan dalam mendukung petani meningkatkan produksi pertanian, perbaikan sistem data serta penerapan teknologi mendukung pertanian berkelanjutan,” jelas dia.

Sekedar untuk diketahui, produksi kakao Indonesia menurun berdasarkan data FAO.

Di mana pada tahun 2012, produksi kakao kering mencapai 410.000 ton, lalu turun menjadi 290.000 ton pada tahun 2016.

Meski demikian, Pulau Sulawesi tetap memberikan konstribusi terbesar dengan 62,66 persen dari produksi kakao Nasional.

Sementara itu, produksi biji kakao kering di Luwu Utara sepanjang tahun 2017 mencapai 26.274 ton.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Luwu Utara, Agussalim Lambong, menyebut produksi dihasilkan dari area seluas 39.410 hektare.

“Rata-rata produktivitas tanaman kakao di Luwu Utara adalah 990 kilogram biji kering per hektar dalam setahun,” kata Agussalim beberapa waktu lalu. (jsm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *