Dimasa Pandemi Covid-19 Banyak Sekali Dampak Yang Kita Rasakan

banner 468x60

BELANEGARANEWS.ID, JAKARTA – Dengan adanya wabah virus Corona (Covid-19) yang melanda di berbagai negara termasuk Indonesia sehingga wabah tersebut berdampak kepada pendidikan dari berbagai tingkatan mulai dari Sekolah TK, SD dan Sekolah Tinggi. Hal ini juga sangat berdampak terhadap mental para peserta didik.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Siti Hawa Mahasiswi STAI Al Hikmah Jakarta ia mengatakan, dampaknya terlihat nyata di segala sektor termasuk dunia pendidikan. Pemberlakuan pembatasan sosial telah menimbulkan rasa takut dan kecemasan di seluruh dunia termasuk indonesia. Jakarta, 23 Desember 2020.

“Lanjut Siti Hawa, Kondisi ini mengharuskan semua orang untuk melakukan aktivitas dirumah saja termasuk sekolah, bekerja, dan aktivitas tambahan lainnya. Semua kita lakukan dari rumah hal ini tentu saja menimbulkan dampak bagi para siswa dan orang tua.

Selain itu, Anak-anak banyak yang belum atau tidak mampu menghadapi perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini. Perubahan gaya pembelajaran yang mulanya dengan tatap muka kini  menjadi virtual dengan menggunakan teknologi yang berbasis internet.

Kondisi ini bisa menyebabkan terganggunya mental peserta didik. Orang tua yang di tuntut menjadi guru dadakan semestinya mampu membimbing Anak-anak mereka agar tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh namun apalah daya kondisi sosial budaya dan pendidikan orang tua menjadi penghambat, di tambah lagi dengan kita di paksa untuk melek teknologi, Semuanya berbasis android. Hal ini menjadi salah satu kendala yang di hadapi oleh siswa, sarana dan prasarana yang tidak mendukung misalnya tidak memiliki Handphone Android, terkendala jaringan internet, pulsa dan lain sebagainya, ucap Siti Hawa.

“Dahulu orang tua hanya menitipkan anak nya kesekolah dan si anak pulang dari sekolah dengan hasil yang dia capai pada hari itu, orang tua hanya tinggal terima beres, anaknya jadi pintar tidak tau apa yang di rasakan oleh guru, bagaiman anak mereka di sekolah, dan hanya tau hasil meraka belajar melalui guru mereka, sekarang harus menjadi guru dadakan yang barangkali juga belum tentu tau atau paham pelajaran yang di maksud.

Keterbatasan pengetahuan orang tua merupakan salah satu dari beberapa kendala yang di hadapi, alhasil anak menjadi sasaran emosi para ibu ibu hampir setiap hari bisa di pastikan suara suara keras ibu memberikan penyemangat untuk anak mereka. Namun hal ini di artikan lain  oleh anak, mereka menjadi tak nyaman, karena merasa di marahi terus, merasa bosan, dan di tambah lagi tugas tugas dari guru yang menumpuk dan tidak sesuai dengan porsinya.

Sementara guru hanya memberikan tugas tanpa memberikan pemahaman dan pengertian tentang pelajaran yang mereka sedang pelajari, bandingkan saja dalam satu hari siswa di berikan tugas paling sedikit 3-4 kali dengan bidang study yang berbeda dan guru yang berbeda pula karakteristiknya, dengan batas waktu penyerahan tugas yang sangat terbatas.

Hal ini bisa menyebabkan kecemasan dan kepanikan pada anak, apabila menyerahkan tidak tepat pada waktunya. Bukan hanya kecemasan yang dialami anak, tetapi bisa lebih serius seperti stress, depresi, dan frustasi sampai ada yang mengakhiri hidupnya sungguh sangat memprihatinkan, ujarnya.

Menurut Siti Hawa, hal ini tidak bisa diremehkan meskipun belajar adalah kewajiban. Sebagai orang tua dan pengajar seharusnya lebih bisa memahami kondisi anak anak kita saat ini, mereka belajar di rumah tidak 100% waktunya untuk belajar dan mengerjakan tugas yang menumpuk.

Adakala nya mereka ingin berkumpul dan berbincang bersama keluarganya, bermain dengan teman sebayanya, atau hanya untuk melepaskan rasa penat yang di rasakan, belajar dari rumah kenyataan sangat jauh dari harapan, terkadang yang biasanya belajar tatap muka termasuk anak yang berprestasi di kelasnya tetapi di pembelajaran jarak  jauh ini nilainya sangat jauh merosot bukan karena tidak mahir menggunakan teknologi tapi rasa bosan yang mendera,tugas yang menumpuk, kepanikan akan waktu pengumpulan tugas,materi yang tidak di pahami,desakan orang tua untuk segera dapat menyelesaikan tugasnya, hingga berpengaruh pada kondisi kejiwaan peserta didik dan hasil belajar mereka, kata Siti Hawa.

Ditambahkan, marilah bersama sama  kita camkan perkataan mas menteri Nadiem Makarim yang mengatakan bahwa “pendidikan yang baik adalah seberapa kuatnya koneksi batin antara guru dan murid, dalam hal ini di dalam kelas dan seberapa kuatnya koneksi antara orang tua dan anak hal ini di dalam rumah”, teknologi tak akan mampu menggantikan koneksi batin ini, teknologi sifatnya hanya membantu meningkatkan pendidikan.

Mari bersama sama kita perbaiki dan mulai membangun koneksi tersebut agar dapat tercapainya suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, tandasnya. (Azhar/Selamet).

SHARE :
Banner IDwebhost
banner 468x60
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dimasa Pandemi Covid-19 Banyak Sekali Dampak Yang Kita Rasakan"