Hidup dalam Pikiran Orang Lain

Tidak ada komentar 153 views
Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Jakarta, Belanegaranews.id – Astrofisikawan Subrahmanyan Chandrasekhar (1910-1995) merupakan lelucon di antara para koleganya di Universitas Chicago. Ide-idenya memang sangat aneh, sehingga ilmuwan lain sukar menerimanya selama bertahun-tahun. Antara lain, ia dikenal dengan model evolusi bintang yang menjadi dasar bagi teori lubang hitam.

Namun, bukan itu yang menjadikannya bahan tertawaan di antara kawan-kawannya. Jika dosen-dosen lain bangga dengan diri mereka karena mata kuliah yang mereka berikan populer dengan angka kehadiran mahasiswa yang tinggi, maka kelas astrofisika Candrasekhar hanya berhasil menarik minat dua orang mahasiswa untuk mendaftar dan menghadirinya.

Padahal, kelas Candrasekhar itu diadakan 80 mil jauhnya dari kampus utama di observatorium astrologi. Itu artinya, dia harus bolak-balik 160 mil hanya untuk mengajar dua mahasiswa. Merasa kasihan, sekaligus mengolok-olok, dosen-dosen lain berhadap Candrasekhar membatalkan saja kelasnya. Tapi, sang pakar astrofisika itu bergeming.

Ia menyukai mata kuliahnya, dan menikmati kelas yang dibawakannya. Dalam ruangan yang hanya bertiga saja, akhirnya justru lahir ide-ide cemerlang. Mereka asyik dengan mata kuliah yang sunyi itu, termotivasi oleh kepuasan menciptakan cara baru untuk menggambarkan kenyataan. Kepuasan mereka datang dari sensasi mencapai persepsi baru.

Seperti diceritakan kembali oleh Rod Judkins dalam bukunya The Art of Creative Thinking, kelas Chandrasekhar itu merupakan kelas terkecil dalam sejarah pendidikan universitas –diejek dan ditertawakan. Namun, beberapa tahun kemudian, kedua mahasiswa yang mengikuti kelas itu memenangkan Hadiah Nobel untuk bidang Fisika. Kemudian, Chandrasekhar sendiri juga dianugerahi Hadiah Nobel, untuk bidang yang sama.

Mereka semua merasa senang. Kelas terkecil dalam sejarah itu menjadi kelas universitas yang paling sukses sepanjang masa: semua orang di kelas telah memenangkan Hadiah Nobel !

Barangkali banyak di antara kita yang selama ini hidup dalam pikiran orang lain. Kita melakukan sesuatu untuk membuat orang banyak senang dan terkesan. Kita berpikir tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain. Dalam hal-hal keseharian yang sepele saja, misalnya urusan nonton film, kita merasa harus mengikuti pandangan orang bahwa pergi ke bioskop sendirian itu alangkah menyedihkan.

Kita kehilangan kesenangan dari banyak hal yang mestinya menjadi pengalaman autentik kita, keinginan kita yang paling dalam, dan hal-hal lain yang memicu kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, karena merasa terganggu dengan pendapat orang lain. Kita membiarkan diri untuk senantiasa “membungkam” suara “asli” kita sendiri, karena merasa harus menyamakan diri dengan apa yang orang lain pikirkan.

Tentu saja, tidak harus menjadi orang yang sok anti-mainstream –bila memang tidak perlu. Tak usah merasa lebih hebat hanya karena kita melawan arus, membenci apa yang sedang ngetren, atau bangga hanya semata-mata karena berbeda dari yang umum. Namun, fokus pada apa yang benar-benar kita inginkan, terlibat, dan menginspirasi kita, itu akan jauh lebih efektif dalam memberikan pengalaman yang paling menggembirakan, dan hasil yang memuaskan.

Jika Anda senang dengan mata kuliah yang tak seorang pun suka, maka yang penting bagi Anda adalah Anda tertarik. Jika Anda telah menentukan pilihan untuk kuliah jurusan A misalnya, maka apapun kata orang –hari gini, mau jadi apa nanti?– tak perlu membuat Anda kecil hati. Jika menjadi seniman adalah “panggilan jiwa” Anda, maka tak perlu “terintimidasi” dengan orang-orang di sekitar Anda yang berbisnis, membuka kedai kopi, mengembangkan start up, menjadi entrepreneur.

Pun sebaliknya, jika merasa punya bakat “jualan”, kenapa tidak mencoba memulainya, di saat orang lain sibuk mengejar kemapanan karier yang memberikan rasa aman –jabatan yang keren, profesi yang mendatangkan popularitas, pekerjaan yang bercitra gengsi tinggi– dengan gaji yang pasti setiap bulan?

Kita hidup pada zaman ketika hampir apapun dengan mudah menjadi jargon; ekonomi kreatif, revolusi industri keempat, era disrupsi, inovasi, matinya kepakaran –apalagi? Diperlukan sikap dan pemikiran yang revolusioner, walaupun tidak populer, untuk menciptakan ide-ide yang baru. Dan, itu hanya bisa lahir serta dilakukan atas dorongan kepentingan dari dalam diri, bukan apakah orang lain tertarik atau tidak. Jika semua kedai kopi menawarkan kopi dengan gula aren, bukan berarti kedai kopi Anda harus mengikutinya.

Jika tidak menyenangkan, tidak ada gunanya melakukan itu.

Banner IDwebhost
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Hidup dalam Pikiran Orang Lain"