Kasus Harley dan Isu Pemecatan Direksi Garuda

1 komentar 236 views
banner 468x60

Direktorat Bea dan Cukai mencuriga 18 kotak kargo yang dibawa oleh pesawat Airbus milik Garuda.

Jakarta, BNNews – Beberapa hari, media massa diramaikan kabar dugaan penyelundupan onderdil motor Harley Davidson bekas dan dua buat sepeda Brompton. Barang-barang ini dibawa masuk ke Indonesia menggunakan pesawat baru Garuda Indonesia tipe Airbus A330-900.

Pesawat anyar tersebut bertolak dari Toulouse, Prancis pada Sabtu, (16/11) dan tiba pada Minggu (17/11) di hanggar nomor 4 milik Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Usai mendarat, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan, mereka menemukan 18 kotak bawaan penumpang dan 15 di antaranya berisi suku cadang motor Harley Davidson bekas dalam kondisi terurai.

Sementara tiga kotak lainnya, bersisi sepeda Brompton. Kasubdit Humas Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan berdasarkan data manifest, jumlah penumpang pesawat saat mendarat sebanyak 32 orang.

Penumpang tersebut terdiri dari 10 orang kru pesawat dan 22 penumpang. Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengungkap suku cadang tersebut akan dipergunakan oleh karyawan dan bukan untuk diperjualbelikan

“Seluruh barang yang dibawa dalam pesawat sudah dilaporkan ke petugas kepabeanan. Komponen motor itu juga sudah dilaporkan ke pihak kepabeanan di negara asal barang, yaitu melalui Delivery Center Airbus di Toulouse, Perancis,” ujarnya saat menjelaskan kronologi peristiwa dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (3/12).

Bahkan, Garuda Indonesia juga telah menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan izin kepada otoritas bandara dan Garuda Maintenance Facility (GMF) selaku kawasan berikat.

“Pemeriksaan Bea Cukai tidak mengindikasikan ada pelanggaran kepabeanan pada bagian cockpit dan kabin penumpang. Namun pada bagasi ditemukan beberapa spare part motor besar yang tidak diproduksi di Indonesia,” ucap Ikhsan.

Atas temuan itu, sambungnya, perusahaan sudah melaporkan kepada petugas bea cukai sesuai ketentuan yang berlaku. Hanya saja memang saat terjaring pemeriksaan, bea masuk impor komponen Harley dan Brompton tersebut belum  dibayar.

“Karyawan Garuda Indonesia tersebut akan tunduk dan mematuhi segala aturan yang berlaku atas putusan dari kepabeanan, misalnya membayar bea masuk atau prosedur lain yang akan dikenakan,” katanya.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengungkapkan praktik pengiriman barang seperti yang terjadi dalam kasus Garuda tersebut bukan hal yang besar. Menurutnya, praktik tersebut masih dalam tahap wajar.

Ia sendiri heran, kenapa masalah tersebut kemudian besar dan ramai diberitakan media.

“Saya juga tidak mengerti, Apakah alasan untuk mecat direktur Garuda? Saya tidak tahu juga. Politisnya saya tidak mengerti,” jelas Yustinus

Dia memaparkan dalam praktik bea dan cukai, melunasi pajak belakangan umum terjadi. Yang penting, pembawa barang deklarasi atau membuat Pemberitahuan Impor Barang (PIB) terlebih dahulu.

Dari deklarasi tersebut, pemilik kemudian menyatakan mereka membawa barang dan akan membayar pajak.

Baca selanjutnya KLIK DISINI !!! 

 

 

 

SHARE :
Banner IDwebhost
banner 468x60
Satu Respon
  1. Soal Harley, Kemenhub Bakal Sanksi Garuda Jika Terbukti Salah - Bela Negara News2 tahun ago

    […] Kasus Harley dan Isu Pemecatan Direksi Garuda […]

    Balas

Tinggalkan pesan "Kasus Harley dan Isu Pemecatan Direksi Garuda"