Jakarta Krisis PRT Gara-Gara Pabrik Ramai-Ramai ke Jateng

Pabrik Ramai-Ramai Pindah ke Jateng, Jakarta Krisis PRT

Banner IDwebhost

Jakarta, BNNews – Ratusan pabrik dari Jawa Barat direlokasi atau pindah ke Jawa Tengah (Jateng). Fenomena ini berdampak perubahan kepada tenaga kerja informal seperti asisten rumah tangga (ART/PRT) yang berasal dari Jateng.

Ketua Asosiasi Pelatihan Pekerja Seluruh Indonesia (APPSI) Mashudi mengatakan, jumlah ART asal Jawa Tengah ke Jakarta menurun drastis sepanjang 2019. Hal ini tak terlepas dari mulai banyaknya lowongan pekerjaan yang tersedia di Jawa Tengah.

“Biasanya yang ngomong petugas di lapangan, ‘Pak susah cari tenaga karena [mereka bekerja di] pabrik-pabrik di daerah.’ Lowongan lebih terbuka di kampung, mungkin mereka nggak mau ke Jakarta,” kata Mashudi.

Sebagian agen penyalur ART dari Jawa Tengah menjadi pusing karena kekurangan calon ART untuk dikirim ke Jakarta. Kebanyakan ART di Jakarta berasal dari Brebes, Pemalang, Tegal, dan Cilacap.

Para ART memutuskan balik ke kampung halaman untuk bekerja di pabrik-pabrik. Menurut Mashudi, beberapa di antaranya di sektor tekstil, pengolahan kayu dan pabrik-pabrik kecil lainnya.

Mashudi mengatakan, faktor bisa lebih dekat dengan keluarga menjadi alasan ART balik untuk bekerja di daerah masing-masing, meski upah yang diterima lebih kecil dibanding menjadi ART di Jakarta.

“[Upah] lebih kecil malah. Cuma mereka kan dekat dengan keluarga, dekat dengan pengolahan kayu. Pabrik pabrik kecil lah. Nggak UMK juga. Tapi karena dekat dengan rumah ya mereka memilih di sana,” kata Mashudi.

Jawa Tengah menjadi primadona untuk relokasi pabrik lantaran upah minimum di sana lebih rendah. Gubernur Jawa Tengah mengatakan sepanjang tahun 2019, sudah ada 140 pabrik relokasi dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.

Benny Sutrisno selaku pengusaha tekstil yang memiliki pabrik di Semarang juga membenarkan hal ini. Berdasarkan pengalamannya dari sekitar 6000an karyawan pabrik tekstil miliknya tak sedikit yang sebelumnya berprofesi sebagai PRT.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan relokasi pabrik tekstil dari Jawa Barat ke Jawa Tengah sudah berlangsung sejak 2015 silam. Masalah upah yang tinggi di Jawa Barat menjadi pemicunya.

“Perbandingan [upah] 1:2, ini nggak kondusif,” ucap Ade.

Rata-rata pabrik yang hengkang ke Jawa Tengah dahulunya terletak di Bandung, Karawang, dan Purwakarta. Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) Karawang pada tahun 2019 sebesar Rp4,23 juta dan tahun 2020 ditetapkan sebesar Rp4,59 menjadi yang tertinggi di Indonesia. (Red)

Banner IDwebhost
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pabrik Ramai-Ramai Pindah ke Jateng, Jakarta Krisis PRT"